8 Bahaya Pinjaman Online dan Resikonya, Nasabah Wajib Waspada

8 Bahaya Pinjaman Online agar Tidak Terjebak, Nasabah Harus Waspada!

8 Bahaya Pinjaman Online agar Tidak Terjebak, Nasabah Harus Waspada!

Dengan adanya pinjaman online sekarang ini seakan menjadi angin segar untuk masyarakat karena banyak sekali kemudahan untuk mengambil kredit. Namun sampai sekarang, ada beberapa hal terkait resiko pinjaman online yang harus diperhatikan oleh para nasabah yang ingin menggunakan pinjaman online.

Hadirnya Fintech sekarang ini menggoyang dunia kredit yang ada di Indonesia. Proses kredit yang biasanya memerlukan waktu sampai dengan 1 minggu sekarang dapat dengan cepat disetujui dalam hitungan jam oleh perusahaan peminjam online. Sekarang ini sudah ada lebih dari 30 perusahaan fintech OJK yang memberikan layanan kredit online.

Namun meskipun begitu masih ada kekurangan dari kredit online ini. belakangan ini ada banyak kelihan yang muncul di media sosial tentang cara penagihan pinjaman online yang dirasa tidak sesuai dengan ketentuan dan melanggar privacy yang ada. Namun kali ini saya bukan mau membicarakan tentang cara penagihan perusahaan online tersebut, melainkan resiko yang ada dari pinjaman online.

Kali ini saya akan membahas tentang kekurangan pinjaman yang perlu kalian ketahui, ada beberapa resiko yang perlu diperhatikan terlebih dahulu sebelum melakukan pinjaman online. Banyak orang yang membicarakan tentang keunggulan dari teknologi fintech ini, namun jarang yang mengupas tentang resiko ketika mengajukan kredit online.

 

8 Resiko Pinjaman Online dan Kasusnya

Berikut ini akan bropulsa bahas kekurangan dari kredit online dan segala bahayanya yang perlu nasabah ketahui agar tidak terjadi masalah.

 

#1. Bunga Pinjaman Online yang Tinggi

Fakta yang perlu kalian ketahui sejak awal adalah tingkat bunga pinjaman online yang bisa dibilang tinggi, bahkan ada yang mengganggap sangat tinggi. Sampai sekarang OJK belum mengatur tentang batas bunga dari pinjaman online. Jadi tingginya bunga yang diberikan pada nasabah ditentukan oleh market player, perusahaan online.

Namun perusahan pinjaman online mempunyai alasan tersendiri kenapa menerapkan bungga yang tinggi tersebut. Salah satu alasannya adalah karena kemudahan persyaratan dan kecepatan dalam persetujuan pengajuan pinjaman online tersebut. Selama nasabah tahu bunga yang harus dibayar, tidak masalah mengambil bunga dengan jumlah yang sangat tinggi. Karena untuk apa bunga rendah namun pinjaman sulit didapat atau persetujuan memerlukan waktu berminggu-minggu.

Yang jadi masalah disini adalah mereka mengambil pinjaman online tersebut tanpa mengetahui dan menghitung terlebih dahulu bunga yang harus mereka bayar ketika mengambil pinjaman online tersebut, dan akibatnya mereka tidak mau atau mungkin tidak sanggup untuk mengembalikan pinjaman tersebut. Jadi tingginya bunga yang harus dibayarkan merupakan faktor yang sangat penting yang harus diketahui oleh para nasabah yang mau pinjam online.

 

#2. Plafond Pinjaman Kecil

Resiko lain yang diapat ketika melakukan pinjaman online adalah plafond tanpa angunan yang tidak besar. Rata-rata yang diberikan adalah di bawah Rp5 Juta setiap kali peminjaman. Bahka ada beberapa pinjaman online yang mulai dari Rp1 juta dan baru bisa meminta untuk kenaikan plafond setelah melakukan pinjaman beberapa kali.

Sifat pinjaman online yang cepat dan mudah ini berdampak pada jumlah plafond yang mereka tawarkan. Jadi tidak bisa melakukan pinjaman dalam jumlah yang besar. Untuk melakukan pinjaman yang besar, nasabah tetap harus pergi ke bank.

 

#3. Data Pribadi di Aplikasi Pinjaman Online

Ketika melakukan pinjaman online, para calon peminjam harus mendownload aplikasi pinjaman online terkait. Para nasabah mendownload aplikasi di Smartphone mereka dan dari aplikasi tersebut mereka bisa mengajukan pinjaman online. Memang cara ini memberi banyak kemudahan untuk para nasabah. Kapan pun mereka membutuhkan piinjaman, mereka hanya perlu membuka aplikasi tersebut.

Namun resikonya disini adalah eksposes dari data pribadi para peminjam online yang diminta aksesnya oleh perusahaan peminjam online ketika nasabah melakukan pengajuan pinjaman. Apakah menark data pribadi merupakan hal yang salah?

Selama calon nasabah memberikan consent persetujuan kepada perusahaan peminjam tersebut untuk bisa melihat dan menganalisa data di telepon seluler milik nasabah maka boleh-boleh saja menggunakan data tersebut. Yang penting calon nasabah mengerti dan paham bahwa dia memberikan persetujuan atas penggunaan data akses data pribadi milik mereka untuk pengajuan peminjaman online.

 

#4. Proses Persetujuan Lama

Harapan para peminjam ketika mengajukan pinjaman online adalah pengajuan tersebut cepat diterima dan cair. Namun dalam kenyataannya tidak semua peminjaman online yang diajukan bisa diwujudkan dengan cepat. Kalian bisa melihat dari komentar-komentar yang ada di PlayStore tentang keluhan mereka akibat lamanya pencarian dan tidak adanya response atas pengajuan online yang mereka buat.

Meskipun sudah menggunakan teknologi yang canggih, dalam kenyataannya banyak sekali proses peminjaman online yang tidak bisa cepat dicairkan. Memerlukan waktu beberapa hari sampai muncul keputusan tentang disetujui atau tidak pengajuan yang mereka ajukan. Kondisi ini perlu diketahui para nasabah untuk tidak terlalu berharap, karena bisa-bisa nanti sangat kecewa.

 

#5. Tidak Bayar Pinjaman Online, Penagih Datang

Seperti pinjaman pada umumnya, ketika nasabah tidak membayar tagihan maka akan ada tindakan penagihan, namun penagihan ini tidak akan dilakukan jika nasabah membayar tagihan tepat waktu. Banyak orang berpikir karena ini adalah pinjaman online, maka jika tidak membayar tidak akan ada proses penagihan langsung dan hanya diingatkan lewat email atau sms. Namun ini tidak sepenuhnya benar, dalam informasi perjanjian di website, nasabah yang tidak membayar akan ditaggih oleh perusahaan online tersebut.

Jika nasabah tidak membayar maka perusahaan pinjaman online tersebut akan melakukan tindakan penagihan. Tindakan penagihan ini dilakukan mulai dari reminder sampai dengan intensif supaya nasabah membayar kewajiban mereka. Yang kedua adlaah nasabah akan dilaporkan ke biro kredit yang diawjibkan OJK kepada setiap perusahaan Fintech. Pelaporan ini supaya nasabah yang tidak bayar tersebut tidak bisa mengajukan peminjaman lagi.

Jadi jika memang mau mengajukan peminjaman ke perusahaan fintech online, kalian harus memastikan memiliki kemampuan untuk mengembalikan pinjaman tersebut. Jangan sampai kalian tergiur dengan proses peminjaman yang mudah dan cepat dilakukan. Karena nasabah tidak memperkirakan kemampuan untuk mengembalikan pinjaman, pada akhirnya dilakukan proses penagihan yang tidak menyenangkan.

 

#6. Biaya Administrasi Penagihan

Satu hal yang seringkali dilupakan ketika meminjam adalah biaya penagihan. Ketika menumpuk, maka resiko bukan cuma menghadapi pengaihan namun juga tambahan biaya karena biasanya perusahaan pinjaman online ini akan meminta biaya atas keterlambatan pembayaran atau late fee. Selain itu, karena proses penagihan ini memerlukan bantuan manusia, beberapa perusahaan pinjaman online akan membebankan biaya penagihan tersebut ke nasabah yang menunggak.

Jumlah biaya penagihan ini bisa dibilang cukup besar dibandingkan plafond pinjaman. Hal ini karena ketentuan tentang biaya yang harus dibayar ketika nasabah menunggak tidak secara jelas dicantumkan beberapa website perusahaan pinjaman online. Hal ini seolah-olah tidak ada kewajiban untuk membayar biaya tambahan jika telat membayar.

Oleh karena itu calon nasabah harus menanyakan terlebih dahulu atau membaca perjanjian kredit dengan teliti tentang kewajiban nasabah yang telat membayar tunggakan pinjaman online. Berikut ini adalah contoh pinjaman online yang secara transparant menyatakan biaya keterlambatan di website mereka.

8 resiko melakukan pinjaman online 1

#7. Pinjaman Online Belum Terdaftar OJK

Di internet ada banyak sekali yang menawarkan pinjaman online, namun apakah semua pinjaman online terdaftar di OJK? Mana saja pinjaman online terpercaya yang terdaftar di OJK? Tidak emua pinjaman onlie terdaftar di OJK. Sejalan dengan ketentuannya, setiap perusahaan dan lembaga yang menawarkan pinjaman online wajib mendaftar dan mendapatkan lisensi dari OJK.

Terus bagaimana cara mengetahui apakah sebuah perusahaan sudah terdaftar di OJK atau belum? Caranya muda, kalian tinggal masuk ke situs Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan di sana kalian bisa menemukan daftar perusahaan fintech yang sudah terdaftar di OJK. Sampai sekarang sudah ada 64 perusahaan fintech yang terdafter di OJK (Juni 2018). Kalian bisa melihat daftar perusahaan tersebut [disini]. Selain itu tidak menjamin keamananya.

 

#8. Investasi Bodong

Sekarang ini masih banyak investasi bodong, investasi bodong ini tentu akan sangat merugikan para nasabah. Penting bagi para nasabah yang mau pinjam online untuk mengetahui dan memastikan bawah perusahaan yang mereka pinjami merupakan perusahaan resmi. Jika mereka tidak termasuk dalam daftar investasi bodong, maka bisa disimpulkan bahwa mereka adalah peminjam online terpercaya.

Salah satu untuk memastikannya adalah dengan mengecek daftar perusahaan investasi resmi yang terdaftar di OJK. Selain itu kalian juga bisa melihat daftar investasi bodong versi dari OJK. Di OJK ini ada bagian khusus yang memang bertugas untuk mengawasi daftar investasi online yang terpercaya, yaitu Satgas Waspada Investasi. Satgas ini bertugas melakukan pengawasan dan mengambil tindakan terhadap aktivitas yang tidak termasuk dalam investasi resmi dari OJK.

 

Dengan adanaya pinjaman online masyarakat jadi lebih mudah mendapatkan biaya untuk keperluan yang mendadak. Pengajuan kredit yang dulunya identik dengan lama dan rumit sekarang sudah bisa dilakukan dengan mudah dan cepat. Namun meskipun begitu, para calin nasabah harus tetap berhati-hati dan harus mengetahui resiko ketika melakukan pinjaman online. Jika nasabah sudah paham maka masalah dapat terhindarkan atau diminimalisir.

8 Bahaya Pinjaman Online agar Tidak Terjebak, Nasabah Harus Waspada!

8 Bahaya Pinjaman Online agar Tidak Terjebak, Nasabah Harus Waspada!

Dengan adanya pinjaman online sekarang ini seakan menjadi angin segar untuk masyarakat karena banyak sekali kemudahan untuk mengambil kredit. Namun sampai sekarang, ada beberapa hal terkait resiko pinjaman online yang harus diperhatikan oleh para nasabah yang ingin menggunakan pinjaman online.

Hadirnya Fintech sekarang ini menggoyang dunia kredit yang ada di Indonesia. Proses kredit yang biasanya memerlukan waktu sampai dengan 1 minggu sekarang dapat dengan cepat disetujui dalam hitungan jam oleh perusahaan peminjam online. Sekarang ini sudah ada lebih dari 30 perusahaan fintech OJK yang memberikan layanan kredit online.

Namun meskipun begitu masih ada kekurangan dari kredit online ini. belakangan ini ada banyak kelihan yang muncul di media sosial tentang cara penagihan pinjaman online yang dirasa tidak sesuai dengan ketentuan dan melanggar privacy yang ada. Namun kali ini saya bukan mau membicarakan tentang cara penagihan perusahaan online tersebut, melainkan resiko yang ada dari pinjaman online.

Kali ini saya akan membahas tentang kekurangan pinjaman yang perlu kalian ketahui, ada beberapa resiko yang perlu diperhatikan terlebih dahulu sebelum melakukan pinjaman online. Banyak orang yang membicarakan tentang keunggulan dari teknologi fintech ini, namun jarang yang mengupas tentang resiko ketika mengajukan kredit online.

 

8 Resiko Pinjaman Online dan Kasusnya

Berikut ini akan bropulsa bahas kekurangan dari kredit online dan segala bahayanya yang perlu nasabah ketahui agar tidak terjadi masalah.

 

#1. Bunga Pinjaman Online yang Tinggi

Fakta yang perlu kalian ketahui sejak awal adalah tingkat bunga pinjaman online yang bisa dibilang tinggi, bahkan ada yang mengganggap sangat tinggi. Sampai sekarang OJK belum mengatur tentang batas bunga dari pinjaman online. Jadi tingginya bunga yang diberikan pada nasabah ditentukan oleh market player, perusahaan online.

Namun perusahan pinjaman online mempunyai alasan tersendiri kenapa menerapkan bungga yang tinggi tersebut. Salah satu alasannya adalah karena kemudahan persyaratan dan kecepatan dalam persetujuan pengajuan pinjaman online tersebut. Selama nasabah tahu bunga yang harus dibayar, tidak masalah mengambil bunga dengan jumlah yang sangat tinggi. Karena untuk apa bunga rendah namun pinjaman sulit didapat atau persetujuan memerlukan waktu berminggu-minggu.

Yang jadi masalah disini adalah mereka mengambil pinjaman online tersebut tanpa mengetahui dan menghitung terlebih dahulu bunga yang harus mereka bayar ketika mengambil pinjaman online tersebut, dan akibatnya mereka tidak mau atau mungkin tidak sanggup untuk mengembalikan pinjaman tersebut. Jadi tingginya bunga yang harus dibayarkan merupakan faktor yang sangat penting yang harus diketahui oleh para nasabah yang mau pinjam online.

 

#2. Plafond Pinjaman Kecil

Resiko lain yang diapat ketika melakukan pinjaman online adalah plafond tanpa angunan yang tidak besar. Rata-rata yang diberikan adalah di bawah Rp5 Juta setiap kali peminjaman. Bahka ada beberapa pinjaman online yang mulai dari Rp1 juta dan baru bisa meminta untuk kenaikan plafond setelah melakukan pinjaman beberapa kali.

Sifat pinjaman online yang cepat dan mudah ini berdampak pada jumlah plafond yang mereka tawarkan. Jadi tidak bisa melakukan pinjaman dalam jumlah yang besar. Untuk melakukan pinjaman yang besar, nasabah tetap harus pergi ke bank.

 

#3. Data Pribadi di Aplikasi Pinjaman Online

Ketika melakukan pinjaman online, para calon peminjam harus mendownload aplikasi pinjaman online terkait. Para nasabah mendownload aplikasi di Smartphone mereka dan dari aplikasi tersebut mereka bisa mengajukan pinjaman online. Memang cara ini memberi banyak kemudahan untuk para nasabah. Kapan pun mereka membutuhkan piinjaman, mereka hanya perlu membuka aplikasi tersebut.

Namun resikonya disini adalah eksposes dari data pribadi para peminjam online yang diminta aksesnya oleh perusahaan peminjam online ketika nasabah melakukan pengajuan pinjaman. Apakah menark data pribadi merupakan hal yang salah?

Selama calon nasabah memberikan consent persetujuan kepada perusahaan peminjam tersebut untuk bisa melihat dan menganalisa data di telepon seluler milik nasabah maka boleh-boleh saja menggunakan data tersebut. Yang penting calon nasabah mengerti dan paham bahwa dia memberikan persetujuan atas penggunaan data akses data pribadi milik mereka untuk pengajuan peminjaman online.

 

#4. Proses Persetujuan Lama

Harapan para peminjam ketika mengajukan pinjaman online adalah pengajuan tersebut cepat diterima dan cair. Namun dalam kenyataannya tidak semua peminjaman online yang diajukan bisa diwujudkan dengan cepat. Kalian bisa melihat dari komentar-komentar yang ada di PlayStore tentang keluhan mereka akibat lamanya pencarian dan tidak adanya response atas pengajuan online yang mereka buat.

Meskipun sudah menggunakan teknologi yang canggih, dalam kenyataannya banyak sekali proses peminjaman online yang tidak bisa cepat dicairkan. Memerlukan waktu beberapa hari sampai muncul keputusan tentang disetujui atau tidak pengajuan yang mereka ajukan. Kondisi ini perlu diketahui para nasabah untuk tidak terlalu berharap, karena bisa-bisa nanti sangat kecewa.

 

#5. Tidak Bayar Pinjaman Online, Penagih Datang

Seperti pinjaman pada umumnya, ketika nasabah tidak membayar tagihan maka akan ada tindakan penagihan, namun penagihan ini tidak akan dilakukan jika nasabah membayar tagihan tepat waktu. Banyak orang berpikir karena ini adalah pinjaman online, maka jika tidak membayar tidak akan ada proses penagihan langsung dan hanya diingatkan lewat email atau sms. Namun ini tidak sepenuhnya benar, dalam informasi perjanjian di website, nasabah yang tidak membayar akan ditaggih oleh perusahaan online tersebut.

Jika nasabah tidak membayar maka perusahaan pinjaman online tersebut akan melakukan tindakan penagihan. Tindakan penagihan ini dilakukan mulai dari reminder sampai dengan intensif supaya nasabah membayar kewajiban mereka. Yang kedua adlaah nasabah akan dilaporkan ke biro kredit yang diawjibkan OJK kepada setiap perusahaan Fintech. Pelaporan ini supaya nasabah yang tidak bayar tersebut tidak bisa mengajukan peminjaman lagi.

Jadi jika memang mau mengajukan peminjaman ke perusahaan fintech online, kalian harus memastikan memiliki kemampuan untuk mengembalikan pinjaman tersebut. Jangan sampai kalian tergiur dengan proses peminjaman yang mudah dan cepat dilakukan. Karena nasabah tidak memperkirakan kemampuan untuk mengembalikan pinjaman, pada akhirnya dilakukan proses penagihan yang tidak menyenangkan.

 

#6. Biaya Administrasi Penagihan

Satu hal yang seringkali dilupakan ketika meminjam adalah biaya penagihan. Ketika menumpuk, maka resiko bukan cuma menghadapi pengaihan namun juga tambahan biaya karena biasanya perusahaan pinjaman online ini akan meminta biaya atas keterlambatan pembayaran atau late fee. Selain itu, karena proses penagihan ini memerlukan bantuan manusia, beberapa perusahaan pinjaman online akan membebankan biaya penagihan tersebut ke nasabah yang menunggak.

Jumlah biaya penagihan ini bisa dibilang cukup besar dibandingkan plafond pinjaman. Hal ini karena ketentuan tentang biaya yang harus dibayar ketika nasabah menunggak tidak secara jelas dicantumkan beberapa website perusahaan pinjaman online. Hal ini seolah-olah tidak ada kewajiban untuk membayar biaya tambahan jika telat membayar.

Oleh karena itu calon nasabah harus menanyakan terlebih dahulu atau membaca perjanjian kredit dengan teliti tentang kewajiban nasabah yang telat membayar tunggakan pinjaman online. Berikut ini adalah contoh pinjaman online yang secara transparant menyatakan biaya keterlambatan di website mereka.

8 resiko melakukan pinjaman online 1

#7. Pinjaman Online Belum Terdaftar OJK

Di internet ada banyak sekali yang menawarkan pinjaman online, namun apakah semua pinjaman online terdaftar di OJK? Mana saja pinjaman online terpercaya yang terdaftar di OJK? Tidak emua pinjaman onlie terdaftar di OJK. Sejalan dengan ketentuannya, setiap perusahaan dan lembaga yang menawarkan pinjaman online wajib mendaftar dan mendapatkan lisensi dari OJK.

Terus bagaimana cara mengetahui apakah sebuah perusahaan sudah terdaftar di OJK atau belum? Caranya muda, kalian tinggal masuk ke situs Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan di sana kalian bisa menemukan daftar perusahaan fintech yang sudah terdaftar di OJK. Sampai sekarang sudah ada 64 perusahaan fintech yang terdafter di OJK (Juni 2018). Kalian bisa melihat daftar perusahaan tersebut [disini]. Selain itu tidak menjamin keamananya.

 

#8. Investasi Bodong

Sekarang ini masih banyak investasi bodong, investasi bodong ini tentu akan sangat merugikan para nasabah. Penting bagi para nasabah yang mau pinjam online untuk mengetahui dan memastikan bawah perusahaan yang mereka pinjami merupakan perusahaan resmi. Jika mereka tidak termasuk dalam daftar investasi bodong, maka bisa disimpulkan bahwa mereka adalah peminjam online terpercaya.

Salah satu untuk memastikannya adalah dengan mengecek daftar perusahaan investasi resmi yang terdaftar di OJK. Selain itu kalian juga bisa melihat daftar investasi bodong versi dari OJK. Di OJK ini ada bagian khusus yang memang bertugas untuk mengawasi daftar investasi online yang terpercaya, yaitu Satgas Waspada Investasi. Satgas ini bertugas melakukan pengawasan dan mengambil tindakan terhadap aktivitas yang tidak termasuk dalam investasi resmi dari OJK.

 

Dengan adanaya pinjaman online masyarakat jadi lebih mudah mendapatkan biaya untuk keperluan yang mendadak. Pengajuan kredit yang dulunya identik dengan lama dan rumit sekarang sudah bisa dilakukan dengan mudah dan cepat. Namun meskipun begitu, para calin nasabah harus tetap berhati-hati dan harus mengetahui resiko ketika melakukan pinjaman online. Jika nasabah sudah paham maka masalah dapat terhindarkan atau diminimalisir.